Pandemi Corona, Seminar Internasional Ini Tetap Bisa Berlangsung dengan Adanya Teknologi Informasi

61

Jakarta (NP) – Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Udara (Seskoau) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam menggelar seminar internasional di tengah wabah Covid-19. Presiden Joko Widodo menerapkan kebijakan physical distancing atau menjaga jarak aman antar warga untuk mencegah menyebarnya Covid-19. “Di negara kita yang paling pas adalah physical distancing, menjaga jarak aman,” kata Jokowi dalam rapat terbatas lewat video conference dengan para gubernur seluruh Indonesia dari Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (24/3/2020) lalu. Baca juga: Jokowi: Physical Distancing Paling Pas untuk Cegah Covid-19 di Indonesia Meski Covid-19 mewabah, seminar internasional Seskoau bertema “Sinergitas Pengamanan Wilayah Perbatasan Berbasis Teknologi Informasi” itu tetap dapat terlaksana secara daring (online) mulai 14-15 April 2020. Uniknya, host seminar tersebut berada di gedung Widya Mandala 1 Kampus Seskoau, Bandung, Jawa Barat. Sementara itu, para pembicara, termasuk pakar radar dan unmanned aerial vehicle (UAV) dari Chiba University, Jepang, yakni Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, Ph.D berada di tempat yang berbeda. “ Seminar internasional itu dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi informasi agar tetap dapat menjalankan protokol kesehatan penanganan Covid-19,” kata Komandan Seskoau, Marsekal Muda TNI Henri Alfiandi, dalam pernyataan tertulis, Rabu (15/4/2020). Pengamanan berbasis teknologi Henri berharap, para siswa Seskoau mampu berkontribusi kepada TNI dan negara dalam memecahkan suatu masalah pertahanan, utamanya dalam mengelola pengamanan wilayah perbatasan berbasis teknologi. Pasalnya, Indonesia memiliki perbatasan baik darat, laut, maupun udara yang cukup kompleks permasalahannya. Ditambah lagi, ia melanjutkan, saat ini Indonesia menghadapi virus corona.

“Sementara itu, pengamanan perbatasan harus tetap berjalan maksimal guna tetap terjaganya kedaulatan NKRI,” ujar dia. Tantangan lain bagi TNI adalah kejahatan transnasional yang memanfaatkan kelemahan pengamanan dan pengawasan perbatasan. “Kondisi riil sekarang, kita masih perlu meningkatkan sinergitas. Karenanya, dengan menyatupadukan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki, dengan didukung teknologi informasi dan pesawat tanpa awak atau drone,” kata Henri. Peserta kegiatan yang juga salah satu perumus naskah seminar, Mayor Lek Rozikin, mengatakan kegiatan seminar internasional merupakan salah satu sarana melatih perwira dalam memecahkan suatu permasalahan berskala nasional. Dengan demikian, para peserta mampu menjalankan tanggung jawab sebagai perwira TNI Angkatan Udara (AU) dalam mengabdi kepada negara dan bangsa Indonesia. Ia menegaskan, prajurit TNI AU harus berjiwa militan, inovatif, serta profesional. Untuk itulah, para perwira siswa (Pasis) mesti menggali wawasan dari para akademisi maupun pakar teknologi. “Meskipun dalam situasi pandemik corona, para Pasis tidak boleh turun semangat memanfaatkan seminar ini untuk menggali ilmu,” ujar dia. Lihat Foto Drone milik Direktorat Topografi TNI Angkatan Darat diterbangkan di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB), Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/2/2015). Lembaga ini aktif mengembangkan drone untuk kepentingan pertahanan, salah satunya merancang agar drone bisa dilengkapi senjata api.(Kompas/Johanes Galuh Bimantara) Rozikin menambahkan, para perwira siswa Seskoau sebagai generasi milenial penerus kepemimpinan TNI yang modern mesti profesional dalam bersinergi dengan instansi atau institusi lain untuk mengamankan wilayah perbatasan negara. Perwira siswa, ia melanjutkan, mesti mendorong stakeholder pengamanan perbatasan agar mau memanfaatkan teknologi produk dalam negeri, seperti drone dan perangkat komunikasi. “Dengan begitu persoalan dapat diminimalisir sekaligus memajukan industri dalam negeri,” katanya.

Editor : Redaksi LPKN

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here